Admin

Akhir Munajat

Akhir Munajat

Kupandang sepertiga bulan pada kelana malam. Putih tak seutuhnya putih, hitam tak sepenuhnya hitam. Rona awan suram terlahir hujan atas prahara anak-anak langit, bumi seketika menangis risau dibelah musim!

Aku Sebutir Debu

Aku Sebutir Debu

Kupuisikan engkau ketika daun-daun berebut gerimis, rintik resahnya separuh bening menaruh jejak di kaca jendela.

Rindu Tak Tertahan

Rindu Tak Tertahan

Rindu padamu tak tertahan lagi Ingin segera aku kau dampingi Menyulam cinta kasihmu nan murni

Kebahagiaanku

Kebahagiaanku

Ketika itu aku tidak menduga Engkau tersenyum kepadaku Mengulurkan tanganmu kepadaku Mengajakku berjalan bersama

Mengapa Kau Pergi

Mengapa Kau Pergi

Apakah mentari akan terbit lagi Setelah kepergianmu meninggalkanku Apakah bulan akan menemani malamku Setelah luka yang kau ukir hati ini

Orang Ketiga

Orang Ketiga

Pergi.. Pergilah bersamanya Selamanya.. Dengan dia yang Kau Mau Berbahagialah dengannya disana.. Biarkan aku disini..

Aku Kehilangan Siluet Tawamu

Aku Kehilangan Siluet Tawamu

Setajam pena tua menulis syair yang telah lama bergelut di palung hati. Aku tulis semua cerita paling pilu di baris-baris puisi.

Sayap Kita Haruskah Jadi Sayapku

Sayap Kita Haruskah Jadi Sayapku

Tapi bila kau masih mampu dan mau Mari kita tetep terbang bersama. Dengan segala suka duka. Tetap jadikan sayapmu dan sayapku. Menjadi sayap kita.

Aku Ingin Ada Disisimu

Aku Ingin Ada Disisimu

Ingin kukuburkan rasa ini hingga bumi ketujuh Agar hilang sudah segala asa yang resah Andai kau ijinkanku tuk ucapkan kata itu Tuk sekedar berkata bahwa AKU INGIN ADAMU DI SISIKU

Senandung Terakhirku

Senandung Terakhirku

Aku pun lelah,... Bahkan berulang kali terucap dalam diamku Bahwa aku lelah...