Chendana Biru

  • Perempuan
  • Semarang, Jawa Tengah
  • Penulis puisi di akun fb sendiri dan ini adalah web pertama yang mengundang saya menulis di sini. Dan saya adalah seorang yang sangat aktif menulis.
Mentariku

Mentariku

Mentari yang membuka jendela pagi Menjamah pagiku yang sepi Mengusir embun yang bergelayut di kelopak mata Hampir jatuh Namun kering tak sempat kusentuh

Tersesat Dalam Rindu

Tersesat Dalam Rindu

Sudah begitu lama Hati ini sesat dalam luka rindu Terperangkap di belantara kecewa Tidak tahu di mana cahaya Meraba dalam derai airmata

Luka Ini Bukanlah Apa-Apa

Luka Ini Bukanlah Apa-Apa

Aku tidak akan berpaling lagi Tidak akan menoleh padamu Biarkan aku berlari dan pergi Dari semua janji-janji yang belum terjadi

Mengenang Kita

Mengenang Kita

Sebait cinta yang pernah tertulis di dada Yang pernah menjadi nafas asmara Telah hilang dari puisi kita Pudar dari baris waktu Tak pernah lagi kita temu

Bicara Rindu

Bicara Rindu

Aku ingin kau menjadi ombak itu Tidak pernah gagal mengantarkan rindu Dalam semua musim yang berlaku Hadir selalu tanpa jemu Mencumbu

Kenangan Tetaplah Kenangan

Kenangan Tetaplah Kenangan

Ini adalah lara yang menyiksa Hitungan kecewa yang tak berjeda Kutintakan dengan airmata Menjadi kata yang tak terbaca

Jawaban Rindu

Jawaban Rindu

Aku tidak lagi muda untuk bisa membaca cinta Yang seusia anak-anak mentah Berkeliaran di pinggir cemburu

Perjalanan

Perjalanan

Aku tidak tahu Kalau perjalanan sejauh ini Dan aku telah pun sampai di sini Setelah begitu banyak cerita yang harus kutulis

Perjudian Rasa

Perjudian Rasa

Aku membiarkanmu mendapatkan Segala amarah dan sakit hati Padahal sungguh, aku ingin kau bertenang

Aku Wajah Waktu

Aku Wajah Waktu

Sudah lama aku menjadi wajah waktu Usang dan berdebu Pasi dalam kalendar tahunan Saat hari berganti minggu Minggu berganti bulan